Entries for May, 2007
May 2, 2007Content and Intensity of Iman Posted at 12:55 AM Malem tadi telat lg datengnya, temen2 udah pada ngumpul. Ngumpul malem2 gini sambil denger pak ustadz ceramah nyaman juga rasanya. Disini tempat nyari motivasi, inspirasi karena pak ustadz juga seorang motivator kelas internasional *serius nih*. Gara2 titel itu juga ngumpul jadi jarang, gara2 beliau keluar mulu. Ada analogi bagus dari materi malem tadi, yaitu tentang content of iman dan intensity of iman. Kedua hal ini diibaratkan sebagai zat api dan bentuk api. Jika kita ingin membengkokan besi maka kita membutuhkan api untuk memanasi besi agar besi mudah dibengkokkan. Namun ternyata besi tidak menjadi bengkok bila dipanasi oleh api yang berasal dari korek api. Api yang dihasilkan korek api bisa dikatakan kurang atau bahkan tidak mempengaruhi kekuatan besi. Ternyata besi baru bisa dibengkokkan dengan menggunakan api yang berasal dari pancaran las. Walau bahan yang digunakan sama2 api, namun intensitas api dan pengaruh yang dihasilkan berbeda. Kaitannya dengan cerita tersebut, content of iman adalah bahan api sedangkan intensity of iman adalah intesitas pancaran api. Seorang muslim harus mempunyai content of iman (akidah) yang benar dan intensity of iman yang tinggi. Ternyata modal akidah saja tidak cukup, seorang muslim dituntut mempunyai intensity of iman yang tinggi untuk melakukan perubahan. Semakin tinggi intensitas maka perubahan akan semakin cepat. Mungkin faktor rendahnya intensitas iman ini yang membuat manusia alim tapi kurang berdaya guna. |
May 4, 2007
SNSI2007, Bali Posted at 10:43 AM Akhirnya ada juga paper conference di Bali. Bikin ah.. ![]() Seminar Nasional Sistem dan Informatika 2007 (SNSI2007) Inna Kuta Beach Hotel. 27 Juli 2007 Batas Akhir Penyerahan Full Paper 20 Agustus 2007 Pengumuman Penerimaan 29 September 2007 Batas Akhir Registrasi 16 November 2007 Pelaksanaan Seminar More information: http://snsi.stikom-bali.ac.id |
May 13, 2007
Bersih..Bersih.. Posted at 09:40 PM Petunjuk bagus buat yang mau bersih..bersih.. *trus ada yg nyeletuk "tapi aa 'kan poligami"..haiyyaa* ------------------------------ Kunci Membersihkan Hati Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0405/14/manajemen_qolbu.htm KESUKSESAN dalam konsep manajemen qolbu adalah bagaimana kita secara konsisten dapat terus melakukan pembersihan hati di sepanjang kehidupan. Kita harus ingat bahwa faktor kunci keberhasilan agar kita bisa bertemu dengan Allah SWT adalah kebersihan hati atau qolbun saliim. Jadi, puncak kesuksesan bermuara pada kebersihan hati. Lalu, wahana pembersih hati adalah tekad (niat) yang kuat. "Sesungguhnya amal perbuatan itu pasti mengandung niat dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya ditujukan kepada Allah dan Rasul-Nya, berarti hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya..." (H.R. Bukhari-Muslim). Ya, kita tidak bisa meremehkan tekad atau kemauan karena ini ibarat generator yang menggerakkan aktivitas positif kita. Sebuah lampu mampu untuk menyala terus-menerus jika ada listrik yang mengalir. Listrik akan mengalir hanya jika generator dihidupkan. Jadi, kalau diumpamakan bahwa kita bisa saja punya kemampuan. Namun, kemampuan itu tidak akan berfungsi manakala tidak ada yang menggerakkannya. Jadi, pada dasarnya kita sebenarnya mampu untuk salat tahajud dan saum Senin-Kamis. Namun, terkadang kita tidak punya tekad untuk melaksanakannya, kita tidak punya penggerak untuk itu. Kita sebenarnya mampu untuk mengubah diri kepada yang lebih baik, tetapi kita tidak punya tekad untuk itu. Tekad adalah kunci pertama untuk menggerakkan sesuatu. Lalu, tekad juga menjadi kunci terciptanya sikap istiqomah dalam perilaku. Setelah tekad, kunci kedua adalah "ilmu" memahami diri. Memahami dan mengenali diri ada ilmunya. Sebagai ilustrasi, jika saya harus mengadakan ceramah di Yogya, saya harus tahu berapa lama dan berapa panjang jarak menuju Yogya itu. Dengan pengetahuan saya terhadap seluk-beluk Yogya, saya akan bisa mengelola diri secara efektif. Misalnya, saya akan singgah di beberapa tempat atau saya membekali diri saya dengan buku dan laptop. Saya bisa membaca ketika di perjalanan ataupun menulis. Pendeknya, sesuatu yang berguna dapat saya lakukan. Demikian pula halnya untuk membersihkan hati dan memahami diri kita, akan berlangsung efektif jika kita benar-benar mengenal benar diri kita sampai yang sekecil-kecilnya. Dengan demikian, seseorang bisa membersihkan hati apabila dia terus-menerus memperbaiki keadaan dirinya yang dirasakan memiliki banyak kekurangan. Ilmu memahami diri ini berbanding lurus dengan tekad. Semakin keras upaya-upaya yang dilakukan seseorang untuk menyelusuri siapa dirinya, tentulah tekad untuk memperbaiki diri semakin besar pula. Lalu, semakin besar tekad tersebut maka semakin besar pula kadar ilmu pemahaman diri yang dimiliki. Ada sebuah fenomena bahwa kini banyak orang yang lebih suka menyibukkan diri untuk memahami sesuatu di luar dirinya. Mereka kurang berkonsentrasi untuk memahami dirinya sendiri. Seberapa banyak sebenarnya kita menuntut ilmu --misalnya menghadiri pengajian, mendengarkan radio, melihat acara-acara di televisi, dan bersekolah menuntut ilmu yang tinggi-- yang kemudian berdampak pada penguatan tekad kita untuk memahami diri kita? Apakah kita benar-benar, setiap hari, bersedia memahami diri kita? Inilah pentingnya ilmu mengenali diri. Dari sinilah kemudian lahir apa yang menjadi tahapan ketiga upaya membersihkan hati. Kunci ketiga adalah rajin mengevaluasi diri. Dalam konsep manajemen waktu ada istilah pemetaan dan pembagian waktu. Jika kita hidup dalam 24 jam sehari, tentu kita bisa memetakan waktu tiap jam, tiap menit, bahkan tiap detiknya. Nah, dari pemetaan tersebut, apakah selama ini kita sudah menyediakan waktu untuk mengevaluasi diri? Sesungguhnya Allah telah mengingatkan manusia betapa pentingnya waktu. Manusia yang profesional adalah manusia yang mampu mengelola waktunya secara efektif. Manusia yang bernilai adalah manusia yang mampu menyediakan waktunya untuk mengevaluasi diri dan saling menasihati dalam hal kebenaran dan kesabaran. "Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran" (Q.S. al-Ashr: 1-3). Sehari-hari kita menghadapi berbagai sifat dan watak orang, termasuk merasakan watak diri kita sendiri. Jika orang lain membentak ataupun menegur kita yang sombong, otak kita akan merespons apa itu sombong dan apa yang menyebabkan saya sombong. Lalu, hati kita pun diajak berdialog, "Benarkah saya sombong?" Proses itu terjadi karena kita sudah mengenal kriteria (ilmu) kesombongan. Dengan kriteria itulah kita mengetahui hakikat sombong dan apa akibatnya. Dari situ kita lalu berpikir, "Wah, benar saya ini sombong" atau "Ah, rasanya saya biasa saja, tidak sombong". Proses berpikir ini biasa disebut tafakur. Jika kita sombong, apakah bisa kita menahan kesombongan itu? Jika kita merasa tidak sombong, benarkah apa yang kita lakukan bukan meru-pakan kesombongan? Nah, lebih jelasnya bisa saya contohkan seperti ini. Dahulu saya tidak tahu mengapa di wajah saya tumbuh jerawat. Lantaran saya tidak mengerti ilmu perjerawatan ini, saya pun suka mengorek-ngorek jerawat. Akhirnya, jerawat malah timbul banyak. Dan kadang-kadang karena ketidaktahuan saya tentangnya, muncullah infeksi di wajah saya. Namun, setelah saya tahu ilmu perjerawatan, akhirnya saya malah dapat membersihkan jerawat saya. Misalnya saja, jerawat itu akan muncul apabila wajah saya kotor, dan sebagainya. Saya lalu mampu mengendalikan wajah saya dan akhirnya wajah saya bersih dari jerawat. Jadi, sama halnya dengan upaya memahami diri kita dapat menjelma menjadi upaya pengendalian diri. Kita bisa terus membersihkan hati jika tahu ilmunya. Kita akan bisa mengukur diri kita sombong atau tidak dengan ciri-ciri yang kita kenali. Lalu kunci keempat ialah adalah upaya membuka diri terhadap kritik yang datang dari luar diri kita. Di sinilah seseorang bisa mempraktikkan kebesaran hati yang dimilikinya. Ia akan dengan lapang dada menerima ketidaksenangan dan keraguan orang lain terhadap dirinya. Cara efektif untuk menjadi besar hati dan melapangkan dada adalah dengan menerima atau mencari tahu kelemahan diri dari orang-orang terdekat kita, misalnya orang tua, kakak, adik, serta istri atau suami. Bahkan, bisa pula meminta penilaian dari anak-anak kita. Apabila di dalam keluarga ini kemudian berhasil --dalam arti evaluasi diri itu berlangsung secara kontinu dan konsisten-- insya Allah, kita akan dapat mengendalikan diri kita lantaran ada orang-orang di sekitar kita yang mengawasi secara nyata perkembangan diri kita. Alhasil, akan tercipta suatu pengondisian agar kita selalu menjaga perilaku karena ada yang mengawasi. Bukankah hal ini sangat menguntungkan bagi pengembangan diri kita? Bukankah kita sangat diuntungkan dengan adanya pribadi-pribadi yang secara ikhlas mengontrol sikap kita? Mengapa kita harus khawatir dan takut dikritik? Bukankah kritik pedas yang ditujukan kepada kita sama halnya dengan rezeki yang tidak disangka-sangka? Mengapa rezeki? Karena kita sudah dibantu oleh orang-orang di sekitar kita (mungkin termasuk orang-orang yang membenci kita) untuk senantiasa memberikan masukan kepada kita dan masukan itu sangat berharga dalam bagi ikhtiar perbaikan diri. Terakhir, kunci kelima yaitu becermin pada perilaku orang lain. Kita tidak mungkin membersihkan kotoran ataupun kumis dan janggut di wajah jika tidak menggunakan cermin. Cermin memberikan kesempatan bagi kita untuk melihat secara jelas apa yang sebelumnya tidak terlihat. Dalam kehidupan dan perilaku sehari-hari, cermin adalah orang-orang di sekitar kita, baik yang kita kenal akrab maupun yang belum kita kenal. Allah menciptakan berbagai orang dengan berbagai sifat sebagai cermin bagi kita. Subhanallah! Seorang pedagang di pasar mungkin bisa menyaksikan puluhan, ratusan, bahkan ribuan perilaku orang yang menghampiri ataupun hanya lewat di depan kiosnya setiap hari. Ada suami istri yang sedang berdebat hebat. Ada pencopet yang sedang mengintai mangsanya. Ada peminta-minta yang tampak sehat, tapi begitu memelas. Ada pembeli yang memaksa menawar dagangannya. Ada pembeli yang langsung membeli dagangannya tanpa basa-basi. Ada pembeli yang cermat memilih barang dagangannya. Ada pembeli yang tidak peduli dengan asal memilih barang. Ada pembeli yang menggerutu karena harga mahal. Semua itu tanpa disadari sebenarnya cermin bagi sang pedagang. Sifat orang akan bermanfaat sebagai cermin jika kita mengenakan ukuran-ukuran sifat itu kepada diri kita sendiri. Misalnya, jika kita melihat seseorang menunjukkan kesombongannya, lantas diri kita hanya bisa berkata, "Ah, sombong betul orang itu," atau kemudian apakah keadaan sombong itu kita kembalikan kepada diri kita? Tentulah tidak ada gunanya apabila kita hanya mengatakan bahwa "Orang itu sombong". Yang akan bermanfaat bagi kita adalah jika kesombongan yang terjadi di dalam diri orang lain itu kita kendalikan agar kita tidak menjadi sombong. Sebenarnyalah perilaku orang-orang di sekitar kita bisa menjadi percepatan pembelajaran bagi kita untuk membersihkan hati. Kita menjadikan hidup ini lebih efektif dengan mempelajari perilaku orang-orang di sekitar kita untuk memperbaiki diri, bahkan hal ini lebih efektif daripada sekadar membaca buku tentang pengembangan diri yang lebih banyak dimuati teori. Misalnya, ada orang yang kata-katanya gampang menyakiti orang lain. Hidup kita akan menjadi efektif jika kita tidak memberikan komentar atas orang itu dan kita berupaya saja terhindar agar tidak menjadi orang seperti itu. Wallahuaalam.*** |
May 25, 2007
20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional Posted at 06:33 PM Artikel menarik, lihat disini : 20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Bag.1) 20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Tamat) |
May 28, 2007
Kepepet Posted at 11:09 PM Wah gak tau dah nih nasib tesis gimana, iseng2 masukin 'sesuatu' buat snati, snasti dan sriti. Yang tembus baru tiga (snati, sriti), satu lagi belum diumumin (snasti). Kalo tesis gak kelar sekarang sama aja boong nih ngirim2 beginian.. Ayo semangat! |
May 31, 2007
Tanah Para Sultanah Posted at 08:50 AM Dari Noon Coffee break yang ditulis oleh seorang teman.. -------------- TANAH PARA SULTANAH Aceh adalah ‘tanah’ perempuan. Sejarah mencatat tidak sedikit perempuan Aceh yang maju ke kancah medan pertempuran. Dari Sultanah Nihrasiyah, Laksamana Keumala Hayati, Pocut Baren, sampai Cut Nya’ Dhien. Riwayat mereka akan menggetarkan hati siapapun yang membacanya. Tidak salah jika Sultan Alaudin Riyad Syah Saidi Almukammil memilih Keumalahayati. Perempuan sumber inspirasi rakyatnya ini telah berjuang keras untuk Aceh, untuk Indonesia , untuk Asia dan untuk dunia. Pada masa itu beliau telah lulus Mahad Baitul Maqdis, akademi militer dengan instruktur para tentara dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Ibu ini tidak hanya Laksamana atau panglima perang, tetapi juga diplomat dan perunding yang handal. Beliau telah membawa harga diri Aceh saat tegas berunding dengan Komisaris Belanda Gerard de Roy atau dalam perundingan perdagangan dengan Sir James Lancaster dari Inggris, dan dengan utusan negeri-negeri lainnya. Semua menguntungkan Aceh. Laksamana Keumalahayati adalah laksamana terkemuka di dunia saat itu. Beliau telah memimpin 100 kapal perang Kerajaan Aceh di masa lalu, membawa 2000 perempuan tanpa suami sebagai armada. Kuta Inong Bale adalah pangkalan pasukannya yang terletak di Teluk Lamreh Krueng Raya. Bersama pasukannya itu ia berhasil membunuh Cornelis de Houtman dan menawan pasukkannya. Lain lagi dengan Sultanah Safiatuddin Syah Tajul Alam. Sultanah Aceh di abad ke-17. Memerintah selama 35 tahun karena kecintaan rakyat kepadanya. Sebelumnya banyak yang meragukan kepemimpinan beliau karena perempuan. Namun justru pada masa pemerintahannya Aceh mengalami kemajuan yang sangat pesat. Buku-buku agama, pendidikan dan ekonomi banyak ditulis. Nuruddin Ar Raniri dan Abdurrauf Singkel adalah orang yang sering memdapat titah menulis dari Baginda. Pada masa itu para perempuan banyak berperan di berbagai sektor. Saking makmurnya Aceh di masa itu, Yusuf al-Qadri, ulama utusan dari Mekkah, membawa sendiri zakat dari kerajaan Aceh kepada rakyat Mekkah. Aceh memberi zakat kepada rakyat Mekkah! Luar biasa bukan? Masa ketika dua perempuan tersebut di atas berperan, kebesaran dan kejayaannya sulit saya bayangkan. Dua pribadi yang mewakili jamannya dan itu telah dicatat dalam sejarah, namun tidak banyak yang memerhatikan (kita lebih banyak mengenal Kartini ya..). Itu baru dua perempuan Aceh. Selain mereka masih berderet perempuan-perempuan lain yang tidak kalah tangguh dalam mengusir penjajah. Sebut saja nama-nama seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Nya’ Meutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, Cut Meurah Inseun dan nama-nama lain yang sering luput dari catatan. Membaca kisah di atas bak kisah dari Negeri Dongeng saja. Seperti mimpi bahwa pernah ada kejayaan seperti itu di masa silam. Andai ada sutradara yang berani membuatkan filmnya, generasi penerus bangsa ini, khususnya para perempuan, mungkin bisa mengambil banyak hikmah dari mereka. Bahwa hidup, dalam kondisi sesulit apapun tetap harus optimis, penuh semangat (juang) dan pantang menyerah, serta tidak manja tentunya . Tanpa itu sepertinya mustahil Aceh memiliki catatan sejarah yang bisa menggetarkan dada siapapun orang yang membacanya. Hiks… *jadi pengen ke Aceh*(Sumber diambil dari buku tentang sejarah Aceh dan buku “Tanah Perempuan: drama tragedi sembilan babak” karya Helvy Tiana Rosa – moga-moga segera bisa dipentaskan :D) Baca juga: http://www.kalyanamitra.or.id/kalyanamedia/2/1/kronik2.htm |

. Tanpa itu sepertinya mustahil Aceh memiliki catatan sejarah yang bisa menggetarkan dada siapapun orang yang membacanya. Hiks… *jadi pengen ke Aceh*